selamat malm teman, pada malam yang indah ini saya akan membagikan
materi kuliah yang saya tempuh pada semester enam , semoga
bermanfaat, bila ada kekurangan minta sarannya ya ok.lansung saja ini dia...
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Politik adalah semua lembaga-lembaga negara yang tersebut di dalam
konstitusi negara ( termasuk fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif ).
Dalam Penyusunan keputusan-keputusan kebijaksanaan diperlukan adanya kekuatan
yang seimbang dan terjalinnya kerjasama yang baik antara suprastruktur dan
infrastruktur politik sehingga memudahkan terwujudnya cita-cita dan
tujuan-tujuan masyarakat/Negara.
Di Indonesia, sistem politik yang dianut adalah sistem politik demokrasi
pancasila yakni sistem politik yang didasarkan pada nilai-nilai luhur, prinsip,
prosedur dan kelembagaan yang demokratis.
Maka dari
itu kita sebagai warga Negara Indonesia harus bangga Negara kita menganut
sistem politik demokrasi pancasila yang sesuai dengan kepribadian bangsa. Oleh
karena itu mari kita membantu pemerintah untuk menjalankan sistem politik di
Indonesia dengan cara apapun, bisa dengan mengeluarkan pendapat yang membangun
tapi tidak dengan bentuk anarkis. Dan dalam membuat makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
makalah mata kuliah sosiologi dan politik.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian Rezim atau Sistem Politik?
2.
Apa saja peran Ekonomi Politik dalam Kehidupan
Ekonomi ?
3.
Apa pengertian Sistem Ekonomi Politik ?
4.
Bagaimana Paradigma Dan Sistem Ekonomi Politik ?
5.
Bagaimana peran Ekonomi Politik Dalam Proses Pembangunan?
C. Tujuan Penulisan
1.
Untuk
mengetahui pengertian Rezim atau
Sistem Politik
?
2.
Untuk
mengetahui apa saja
peran Rezim Ekonomi Politik dalam Kehidupan
Ekonomi?
3.
Untuk
mengetahui pengertian
Sistem Ekonomi Politik ?
4.
Untuk
mengetahui Bagaimana Paradigma Dan Sistem Ekonomi
Politik?
5.
Untuk
mengatahui Peran Ekonomi Politik Dalam Proses
Pembangunan?
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Rezim atau Sistem Politik
Rezim berasal
dari kata regime yang berarti a form or system of government, a
government power. Dengan pengertian ini, yang dimaksud dengan rezim
sesungguhnya sama dengan pengertian sistem. Maka apa yang dimaksud dengan
sistem politik sama artinya dengan rezim politik dan rezim ekonomi politik.
Melalui pendekatan sosiologi politik, Maurice Duverger memberikan pengertian
rezim politik sebagai lembaga politik yang secara hiostoris memiliki jenis
tersendiri yang berbeda dari satu negara ke negara lain, mengembangkan struktur
kelembagaan tersendiri dimana kehidupan politik itu terjadi.
Struktur
kelembagaan ini merupakan bagian dari kerangka sosial yang secara
keseluruhan teridiri dari lembaga-lembaga lainnya, termasuk faktor
geografis dan demografis. Dengan demikian, rezim politik adalah sistem politik yang
berlaku di suatu negara pada suatu periode tertentu dengan mengembangkan sistem
kelembagaan politik tertentu sesuai dengan kerangka sosial budaya yang ada di
negara tersebut.
Studi sosiologi politik dari Maurice
Duverger, mencoba mengklasifikasikan rezim politik menjadi;
a. Klasifikasi
purba, yang terdiri dari monarkhi, oligarki dan demokrasi. Terkait dengan hal
ini, Aristoteles membedakannya berdasarkan korup atau tidaknya suatu
pemerintahan. Rezim politik berbentuk tirani, oligharki dan demokrasi, sedangkan
bentuk pemerintahan murninya adalah monarkhi, aristokrasi dan timokrasi
(demokrasi dengan pemilihan yang terbatas).
b. Klasifikasi hukum pada masa
sekarang. Ahli hukum percaya
pada praktik Trias politica Montesquieu. Klasifikasi rezim politik dibuat berdasarkan
hubungan internal antara kekuasaan dan elemen yang berbeda yang membentuk
negara. Terdiri dari tiga jenis rezim, yaitu; a) rezim dengan pemerintahan
perwakilan, b) rezim dengan pemusatan kekuasaan dan c) rezim parlementer, yang
kemudian dikembangkan menjadi sistem parlemnter dan sistem presidensial.
c. Klasifikasi
Sosiologi Modern. Terdiri dari dua jenis utama yaitu a) rezim pluralitas atau
demokratis dimana mengizinkan tuntutan politik secara terbuka dan bebas melalui
partai-partai politik secara terbuka dan bebas, dan b) rezim unitarian atau
otokratis lebih menyaratkan bahwa konflik dan tuntutan politik secara resmi
tidak diperkenankan.
2.
Rezim Ekonomi Politik dalam Kehidupan
Ekonomi
Rezim ekonomi
politik menurut Maurice Deverger dapat dilihat dari dua pandangan : pertama;
pandangan kaum marxis yang mengatakan bahwa rezim ekonomi politik mencerminkan
sistem produksi dalam suatu masyarakat. Kepemilikan faktor produksi dikuasai
oleh satu kelompok masyarakat yang disebut kaum kapitalis atau bourjuis dan
kelompok yang tidak memiliki faktor produksi dan hanya menjadi bagian dari
faktor produksi tersebut yaitu kaum buruh atau proletar.
Kedua, paham
liberal, yang melebih-lebihkan independensi lembaga-lembaga politik dalam
hubungannya dengan ekonomi. Dengan kata lain, intervensi politik terhadap
kehidupan ekonomi sangat kecil, untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali.
Pembedaan ini selanjutnya dapat dilihat dari sistem perekonomian yang terdapat
disuatu negara.
Sistem
Perekonomian dapat diartikan sebagai sistem keseluruhan lembaga-lembaga yang
terkait dalam perekonomian (pemerintah dan swasta) dan saling mempengaruhi satu
sama lain dengan tujuan membantu masyarakat untuk menyediakan barang dan jasa
yang dibutuhkan agar tercapai kemakmuran.
Adapun bentuk
umum dari sistem perekonomian adalah :
a. Sistem pasar
bebas (Free Enterprise Economy) atau perekonomian pasar dengan prinsip Lassez
Faire. Cirinya 1) pemerintah tidak campur tangan dan tidak mempengaruhi
kegiatan ekonomi masyarakat dan 2) masyarakat bebas menentukan alokasi
sumberdaya, jenis pekerjaan, usaha dan jenis barang.
b. Sistem ekonomi
Campuran (Mixed economy) dengan pengendalian dan control oleh
pemerintah, tetapi masyarakat masih mempunyai kebebasan yang cukup luas untuk
melakukan kegaitan ekonomi. Campur tangan berupa: penetapan peraturan, sebagai
pelaku ekonomi dan pelaksana kebijakan pemerintah.
c. Sistem Ekonomi
Perencanaan (Central Planed) dimana pemerintah menentukan sepenuhnya
corak kegiatan ekonomi yang akan diberlakukan.
3.
Sistem Ekonomi Politik
Ekonomi politik dalam bahasa Yunani
terdiri dari kata: Oikonomike dan Polis yang secara umum berarti
keterkaitan erat antara faktor produksi, keuangan dan perdagangan dengan
kebijakan pemerintah di bidang moneter, fiskal dan komersial. Martin Staniland
mengatakan ekonomi politik menjelaskan interaksi sistematis antara aspek
ekonomi dan aspek politik.
Hubungan interaksi itu bisa dinyatakan
dalam banyak cara baik dalam hubungan kausalitas antara satu proses dengan
prose yang lain yang bersifat deterministik, atau hubungan yang bersifat imbal
balik (resiprositas atau suatu proses perilaku yang berlangsung terus menerus.
Robert Dahl dan Charles Lindblom dalam bukunya Politics, Economics dan
Walfare tahun 1953 memuat perkaitan antara fenomena ekonomi dan politik
yaitu :
1) Ada perbedaaan
sudut pandang antara ekonomi konvensional dengan ekonomi politik terutama
berkaitan dengan interakasi ekonomi politik di zaman modern.
2) Ada perbedaan
antara ekonomi politik klasik dan ekonomi politik modern yang berkaitan dengan
dinamika hubungan antara pasar dengan kebijakan pemerintah serta
masyarakat yang terkena dampak dari hubungan itu.
3) Ada kerancuan
antara ekonomi politik dengan studi ekonomi pembangunan.
4) Ekonomi politik
dalam menganalisis berbagai masalah selain memakai pendekatan kuantitatif juga
memakai teori-teori atau alat analisis dari ilmu sosial lain.
5) Ekonomi politik
digunakan pula untuk membahas masalah-masalah sosial lain sepanjang ada
kaitannya dengan kegiatan perekonomian.
Ekonomi politik
modern banyak membahas ketidakadilan berkaitan dengan pemerataan pendapatan,
kemiskinan, pertumbuhan dan struktur lainnya, baik dalam ekonomi nasional
maupun ekonomi internasional.
Adam Smith,
ekonomi politik adalah cabang ilmu negarawan atau legislator dengan tujuan 1)
menciptakan suatu sumber pendapatan masyarakat dan 2) menyediakan daya bagi
negara agar mampu menjalankan berbagai tugas dan fungsinya. Sementara
itu, Gregory dan Stuart mencoba menjelaskan keterlibatan negara dalam kehidupan
ekonomi suatu negara dengan mengemukakan empat aspek.
Mereka membuat
suatu kerangka analisis yang membedakan sistem ekonomi politik atas empat aspek
dan masing-masing aspek mengandung dua sisi.
Keempat aspek
itu adalah sebagai berikut :
1) organisasi
pembuatan keputusan yang mengandung dua sisi yaitu sentralisasi dan
desentralisasi.
2) penyediaan
informasi dan koordinasi yang mengandung sisi mekanisme pasar dan melalui
perencanaan pemerintah.
3) hak kepemilikan
yang mengandung sisi hak milik pribadi dan umum atau kooperatif yang memuat
unsur pemilikan pribadi dan umum.
4) sistem insentif
apakah bersifat moral atau material
Berdasarkan
kategori ini maka didapatkan kategori sistem ekonomi politik yaitu kapitalisme,
sosialisme pasar dan sosialisme terencana. Gastil mengkategorikan sistem
ekonomi poltik sebagai berikut:
1)
Sistem kapitalisme dengan cicri
kebebasan ekonomi seluas-luasnnya, membatasi intervensi pemerintah dalam
mekanisme pasar.
2)
Etatisme kapitalis, dengan ciri negara
cukup banyak melakukan intervensi terhadap mekanisme pasar dan secara langsung
menangani sejumlah kegiatan ekonomi, namun dalam batas tertentu pemerintah
tetap mengakui fungsi pasar dan hak milik perorangan.
3)
Kapitalisme campuran, dengan ciri dalam
sistem ini pemerintah sangat aktif menangani redistribusi pendapatan,
mengintervensi dan mengatur mekanisme pasar secara langsung, namun jumlah
sumberdaya ekonomi tidak merampas porsi mayoritas perekonomian nasional.
4)
Sosialisme campuran, dengan ciri
kebebasan ekonomi dalam batas tertentu masih ada, hak milik pribadi dan
inisiatif individu masih diakui, namun pemerintah memiliki peran yang dominan
dalam perekonomian sehingga sistem ini sudah termasuk dalam sistem sosialis.
5)
Sistem sosialis, dengan ciri pemerintah
praktis menguasai dan mengendalikan segenap kegiatan ekonomi, individu sangat
dibatasi bahkan tertekan.
4.
Paradigma Dan Sistem Ekonomi Politik
Secara garis
besar terdapat empat bentuk sistem ekonomi politik yang cukup dominan
yaitu Kapitalisme. Sosialisme, Komunisme dan sestem ekonomi campuran. Yang
secara sederhana dapat dipetakan dalam persamaan sebagai berikut :
SEP = ∫ (Sdi),
dimana :
SEP = sistem ekonomi politik,
SDi = sifat dasar pokok,
SD1 = sifat dasar kepemilikan,
SD2 =
sifat dasar dalam inisiatif pembentukan badan usaha,
SD3 = insentif ekonomi,
SD4 = mekanisme pembentukan harga,
SD5 = kompetisi atau persaingan,
SD6 = struktur organisasi
SD7 = jenis insentif/dorongan
Dalam bentuk tabel, semua sifat
dasar tersebut dalam sistem ekonomi politik perkaitannya sebagaimana yang
terlihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Sifat dasar ekonomi
politik dalam berbagai sistem perkonomian
|
No
|
Sifat Dasar
|
Kapitalisme
|
Sosialisme
|
Komunisme
|
Campuran
|
|
1
|
SD1 =
sifat dasar kepemilikan
|
Individu
|
Industri
dasar dimiliki negara, sisanya individu
|
Seluruhnya
dimiliki negara
|
Individu dan
negara
|
|
2
|
SD2 =
sifat dasar dalam inisiatif pembentukan badan usaha
|
Individu
Partnership
Korporasi
|
Usaha bersama
pada industri dasar dan individu lainnya
|
Negara
|
Individu dan
negara
|
|
3
|
SD3 =
insentif ekonomi
|
Keuntungan
sebagai motif utama
|
Motif ekonomi
dan non ekonomi
|
Insentif
terbatas
|
Ekonomi,
sosial, politik , dll
|
|
4
|
SD4 =
mekanisme pembentukan harga
|
Pasar
(S&D)
|
Pemerintah,
birokrasi
|
Negara
|
Birokrasi
hukum pasar
|
|
5
|
SD5 =
kompetisi atau persaingan
|
Eksis
|
Ada, bila
negara mau
|
Tidak ada
|
Antara ada
dan tidak
|
|
6
|
SD6 =
struktur organisasi
|
Desentralistik
|
Semi
sentralisasi
|
Sentralisasi
penuh
|
Desentralisasi
|
|
7
|
SD7 =
jenis insentif/ dorongan
|
Materialistik
|
Sosialistik
|
Untuk
Ideologi
|
Gabungan
|
Sumber : Didik J. Rachbini, 1996
5.
Ekonomi Politik Dalam Proses
Pembangunan
Pemikiran ekonomi politik dalam rangka
pelaksanaan pembangunan disuatu negara paling tidak mengikuti pendekatan
: 1) Liberal : Penekanan bekerjanya mekanisme pasar karena logika
ekonomi rasional dan 2) Marxis: Penekanan pada telaah terhadap
kekuatan kekuasaan yang banyak mempengaruhi hasil proses politik. Sementara
itu, Martin
Staniland berpendapat proses pembangunan dapat mengikuti salah satu
dari kelompok berikut :
1) Ortodox
liberalism yang sangat mengagungkan individualisme, baik
perilaku dan kepentingannya. Pandangan terhadap individu seperti ini bersifat
sangat fundamental sehingga masyarakat hanya dipandang sebagai agregasi dari
sintesa seluruh kepentingan individu masyarakatnya.
2) Sosial Critique
of Liberalism, yang menyerang pandangan sanagat liberal, karena dalam
pandangan liberalisme, individu seolah-olah hidup dalam isolasi dan ruang
kosong. Dalam pandangan ini sebesanrnya masyarakat juga sngat membentuk
individu di dalammnya baik dari sifat, kepentingan dan perilakunya.
3) Economism dan
Politicism. Economism yang pandangannya lebih mirip pada
liberalisme, yang melihat bahwa proses politik merupakan hasil dari
proses non politik. Jika kelompok liberal memandang proses poliitik sebagai
hasil dari sintesa proses interaksi individu maka economism melihat proses
politik merupakan muara dari kekuatan yang ada (sosial forces). Politicism
melihat bahwa struktur politik lebih menjadi penentu yang membangun
kepentingan-kepentingan tertentu dan dapat memanfaatkannya untuk kepentingan
ekonomi tertentu.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Rezim politik adalah sebagai lembaga
politik yang secara hiostoris memiliki jenis tersendiri yang berbeda dari satu
negara ke negara lain, mengembangkan struktur kelembagaan tersendiri dimana
kehidupan politik itu terjadi.
Struktur kelembagaan ini merupakan bagian dari kerangka
sosial yang secara keseluruhan teridiri dari lembaga-lembaga lainnya,
termasuk faktor geografis dan demografis. Dengan demikian, rezim politik adalah
sistem politik yang berlaku di suatu negara pada suatu periode tertentu dengan
mengembangkan sistem kelembagaan politik tertentu sesuai dengan kerangka sosial
budaya yang ada di negara tersebut.
Secara garis besar terdapat empat bentuk sistem ekonomi
politik yang cukup dominan yaitu Kapitalisme, Sosialisme,
Komunisme dan sestem ekonomi campuran.
B. Saran
Beberapa
solusi untuk mengatasi permasalahan politik di Indonesia yang membuat negara
semakin tidak nyaman adalah sebagai berikut:
1.
Pemerintah harus menjaga stabilitas politik agar
tercipta suasana negara yang nyaman.
2.
Sistem politik harus di buat dan dilaksanakan
sebaik-baik mungkin agar tercipta suasana yang nyaman dan aman.
DAFTAR PUSTAKA
Duverger, M. 1995. Sosiologi Politik. Rajawali. Jakarta.
Lane, J. E. dan
Ersson, S. 1994. Ekonomi Politik Komparatif. alih bahasa Haris Munandar. RajaGrafindo
Persada. Jakarta
Rachbini, D.J. 1996. Ekonomi
Poltik: Paradigma, Teori, Dan Perspektif Baru,
CIDES-INDEF. Jakarta
Philipus, Ng
dan Aini, N. 2004. Sosiologi dan Politik. RajaGrafindo Persada. Jakarta
https://parmadiseme.wordpress.com/2012/07/10/sistem-politik-dan-rezim-ekonomi-politik/






0 comments:
Post a Comment