Friday, 20 January 2017
Thursday, 19 January 2017
Makalah kemiskinan di perkotaan dan cara mengatasinya
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Permasalahan kemiskinan merupakan momok dari kebanyakan negara berkembang, sehingga penurunan angka kemiskinan merupakan tujuan utama dalam perencanaan pembangunan dinegara-negara tersebut, tidak terkecuali di Indonesia. Tiap-tiap pemerintah memiliki berbagai kebijakan dan program pengentasan kemiskinan yang dikembangkan untuk menurunkan angka kemiskinan.
Kemiskinan perkotaan mempunyai permasalahan yang kompleks, mulai dari akar permasalahannya maupun kebijakan yang diambil untuk mengatasinya. Kemiskinan perkotaan mempunyai dimensi sosial ekonomi yang cukup beragam dan tentunya implikasi kebijakannya akan semakin rumit. Oleh karena itu, kemiskinan perkotaan mempunyai fenomena multi dimensi meliputi rendahnya tingkat pendapatan, kesehatan dan pendidikan, kerawanan tempat tinggal dan pribadi. Hal tersebut mengakibatkan penduduk miskin perkotaan tinggal di pemukiman yang kumuh dan padat sehingga mengalami kesulitan dalam mengakses fasilitas kesehatan, pendidikan dasar dan kesempatan kerja.
Kemiskinan diperkotaan disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya yaitu urbanisasi penduduk dari daerah pedesaan ke perkotaan tanpa keahlian yang memadai untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, hal ini tentu akan membuat mereka menjadi kurang mendapatkan penghasilan yang layak.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kemiskinan?
2. Apa saja indikator dan penyebab kemiskinan di perkotaan?
3. Bagaimana cara mengukur kemiskinan ?
4. Apa saja dampak dari kemiskinan ?
5. Bagaimana cara mengatasi kemiskinan di perkotaan ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian kemiskinan ?
2. Untuk mengetahui indikator dan penyebab kemiskinan di perkotaan ?
3. Untuk mengetahui bagaimana cara mengukur kemiskinan ?
4. Untuk mengetahui dampak dari kemiskinan ?
5. Untuk mengatahui bagaimana cara mengatasi kemiskinan di perkotaan ?
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Kemiskinan Ada beberapa definisi kemiskinan menurut para pakar, berikut adalah beberapanya: 1. Suparlan ( 1993 ), kemiskinan didefinisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. 2. Sajogyo ( 1988 ), mengartikan kemiskinan tidak sebatas hanya dicerminkan oleh rendahnya tingkat pendapatan dan pengeluaran. Sajogyo memandang kemiskinan secara lebih kompleks dan mendalam dengan ukuran delapan jalur pemerataan yaitu rendahnya peluang berusaha dan bekerja, tingkat pemenuhan pangan, sandang dan perumahan, tingkat pendidikan dan kesehatan, kesenjangan desa dan kota, peran serta masyarakat, pemerataan, kesamaan dan kepastian hukum dan pola keterkaitan dari beberapa jalur tersebut.
3. Menurut Bappenas ( 2002 ), kemiskinan adalah suatu situasi dan kondisi yang dialami seseorang atau sekelompok orang yang tidak mampu menyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi. Jadi, kemiskinan di perkotaan adalah suatu kondisi di perkotaan, dimana seseorang atau sekelompok orang mengalami keadaan standar hidup lebih rendah daripada masyarakat diperkotaan yang seharusnya.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara, Pemahaman utamanya mencakup:
- Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
- Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
- Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai.
B. Pengelompokkan kemiskinan
Menurut pengertian kemiskinan, pada dasarnya bentuk kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pengertian, yaitu:
1. Kemiskinan Absolut. Seseorang dikategorikan termasuk ke dalam golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.
2. Kemiskinan Relatif. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
3. Kemiskinan Kultural. Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
C. Indikator Kemiskinan
Menurut Badan Pusat Statistika (BPS) indikator kemiskinan yaitu:
- Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandan, pangan dan papan).
- Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
- Tidak adanya jaminan masa depan (karena tidak ada investasi untuk pendidikan dan keluarga).
- Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
- Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
Menurut Bank Dunia indikator kemiskinan yaitu:
- Kepemilikan tanah dan modal yang terbatas
- Terbatasnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan
- Perbedaan sumber daya manusia dan sektor ekonomi
- Rendahnya produktivitas
- Budaya hidup yang jelek
- Tata pemerintahan yang buruk
Menurut Bappenas (2006)
Indikator kemiskinan yaitu : - Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan - Terbatasnya akses dan rendahnya mutu pelayanan kesehatan dan pendidikan - Terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha - Terbatasnya akses layanan perumahan dan sanitasi - Lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah - Memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumberdaya alam, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam - Besarnya beban kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan keluarga - Tata kelola pemerintahan yang buruk yang menyebabkan inefisiensi dan inefektivitas dalam pelayanan publik, meluasnya korupsi, dan rendahnya jaminan sosial terhadap masyarakat.
D. Pengukuran kemiskinan
Beberapa metode pengukuran yang digunakan dalam menetapkan indikator kemiskinan adalah sebagai berikut :
a. Metode pengukuran jumlah kalori yang dikonsumsi per orang per hari Metode ini digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Standar kebutuhan minimum per orang per hari menurut BPS adalah 2100 kalori. Pemenuhan jumlah kalori tersebut sudah diperhitungkan dari 52 jenis komoditi yang dianggap mewakili pola konsumsi penduduk. Pemenuhan kebutuhan lainnya (non makanan) diperhitungkan dari 45 jenis komoditi non makanan dengan tidak membedakan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Jumlah pengeluaran dalam rupiah untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang disesuaikan dengan harga pasar yang berlaku di masing-masing wilayah kemudian ditetapkan sebagai garis kemiskinan penduduk di suatu wilayah.
b. Metode pengukuran pendapatan yang disetarakan dengan nilai tukar beras per kapita per tahun Metode ini dikemukakan oleh Sajogyo (1980) untuk mengukur tingkat kemiskinan. Tingkat kemiskinan didasarkan pada jumlah pendapatan per kapita per tahun yang disetarakan nilai tukar beras, yaitu : Kelompok paling miskin : bila pendapatannya kurang dari nilai tukar beras sebesar 240 kg/kapita/tahun. Kelompok miskin sekali : bila pendapatannya hanya setara dengan nilai tukar beras sebesar 240 kg sampai dengan 360 kg per kapita/tahun. Kelompok miskin : bila pendapatannya hanya setara dengan nilai tukar beras sebesar 360 kg sampai dengan 480 kg per kapita/tahun. Kelompok cukup : bila pendapatannya setara dengan nilai tukar beras sebesar 480 kg sampai dengan 960 kg per kapita/tahun. Kelompok kaya : bila pendapatannya sama atau lebih dari nilai tukar beras sebesar 960 kg per kapita/tahun.
c. Metode pengukuran jumlah pendapatan Bank Dunia menggunakan metode pengukuran jumlah pendapatan minimal per hari per orang untuk menentukan garis kemiskinan. Menurut Bank Dunia, pendapatan minimal per orang per hari adalah U$ 1 (setara dengan Rp. 9.000,-). Penetapan pengukuran pendapatan ini tidak disertai dengan pengukuran pengeluaran per orang per hari dengan asumsi bahwa selain kebutuhan makanan pokok, pengeluaran untuk jenis kebutuhan lain (non makanan) tidak selalu dilakukan setiap hari. Apabila disetarakan dengan pendapatan per bulan maka seseorang dikatakan miskin apabila penghasilannya dalam sebulan kurang dari Rp. 600.000,-.
E. Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan
Menurut Ala (1981), penyebab kemiskinan dibedakan atas :
1. Faktor Internals Menurut Ala (1981), faktor internal adalah faktor (individu) itu sendirilah yang menyebabkan kemiskinan bagi dirinya sendiri. Berikut beberapa faktor penyebab kemiskinan secara internal.
a. Keterbatasan Karakter - Kurang etos kerja: malas, fatalistik, takut menghadapi masa depan, kurang daya juang - Kurang kepedulian terhadap norma-norma susila: suburnya perilaku menyimpang (pelacuran, perceraian, kumpul kebo, minuman keras dan obat terlarang, pencurian, anak-anak terlantar, pengemis, pengamen, pencopet, keterasingan, kekerasan, ketidak santunan, penodongan)
b. Keterbatasan Pendidikan/Pengetahuan - Tidak memiliki/tidak terjangkau biaya untuk menempuh hidupnya - Tidak memikirkan pendidikan anak-anaknya sehingga sebagian masih buta huruf - Tidak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya ; Learning process sangat terbatas untuk merubah perilakunya karena perilaku yang lebih produktif, lebih normatif bersumber dari learning process, berada dalam lingkungan dimana learning process tidak kondusif
c. Keterbatasan Kesehatan Pangan yang tidak memenuhi kebutuhan fisik (bahkan sering kelaparan), Rumah yang tidak layak (multiguna, tempat kerja, untuk tempat jualan, untuk menumpuk dan memilah-milah barang bekas), lingkungan perumahan yang tidak sehat (kumuh), MCK yang tidak layak/pinggir kali, listrik yang terbatas, air bersih terbatas, lemahnya ketahanan fisik karena rendahnya konsumsi pangan baik kuantitas maupun kualitas sehingga konsumsi gizi mereka sangat rendah yang berakibat pada rendahnya produktivitas mereka, bila sakit tak mampu berobat, bahkan anak sering sakit karena mengkonsumsi air yang tidak bersih
d. Keterbatasan Keterampilan Rendahnya learning process karena tidak memiliki biaya untuk mengikuti sekolah, kursus, atau pelatihan yang menambah ketrampilan mereka
e. Keterbatasan Keadilan Menjadi korban ketidakadilan oleh dirinya sendiri, oleh orang kelompoknya, kelompok kaya, maupun oleh pemerintah. Karena sifatnya yang menjadi masalah/beban dan tidak produktif maka tidak memiliki daya tarik.
f. Keterbatasan Kekuasan - Suaranya jarang didengar baik secara kelompok apalagi secara individu. - Tidak cukup kekuatan tawar menawar/tidak berdaya untuk memperjuangkan nasibnya/tidak memiliki akses ke proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup mereka. - Jarang menang dalam bernegosiasi ekonomi.
g. Keterbatasan Kebebasan Terhimpit persoalan hidup sehari-hari untuk mencari makan, terhimpit hutang, tempat tinggal di tanah negara, lingkungan kumuh yang tidak sehat.
2. Faktor Eksternal
Menurut Ala (1981), kemiskinan yang disebabkan faktor eksternal adalah terjadinya kemiskinan disebabkan oleh-oleh faktor-faktor yang berada di luar diri si aktor tersebut. Faktor eksternal terdiri dari:
a. Faktor Alamiah Ada beberapa faktor alamiah yang menyebabkan kemiskinan, antara lain: keadaan alam yang miskin, bencana alam, keadaan iklim yang kurang menguntungkan. Kemiskinan alamiah dapat juga ditandai dengan semakin menurunnya kemampuan kerja anggota keluarga karena usia bertambah dan sakit keras untuk waktu yang cukup lama.
b. Faktor Buatan (Struktural) Faktor buatan yaitu terjadinya masyarakat miskin karena tidak mempunyai kemampuan untuk beradaptasi secara cepat (dalam arti yang menguntungkan) terhadap perubahan-perubahan teknologi maupun ekonomi, mengakibatkan kesempatan kerja yang dimiliki mereka semakin tertutup. Mereka tidak mendapatkan hasil yang proporsional dari keuntungan-keuntungan akibat dari perubahan-perubahan itu. Menurut Bank Dunia Faktor Penyebab Kemiskinan menurut Bank Dunia : - Kegagalan kepemilikan terutama tanah dan modal. - Terbatasnya ketersediaan bahan kebutuhan dasar dan prasarana. - Kebijakan pembangunan yang bias perkotaan dan bias sektor. - Adanya perbedaan sumber daya manusia dan perbedaan antara sektor ekonomi (ekonomi tradisional versus ekonomi modern) - Rendahnya produktivitas dan tingkat pembentukan modal dalam masyarakat. - Budaya hidup yang dikaitkan dengan kemampuan seseorang mengelolah sumber daya alam dan lingkungannya - Tidak adanya tata pemerintah yang bersih dan baik (good governance). - Pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan dan tidak berwawasan lingkungan
Menurut Edis Suharto Faktor-faktor penyebab kemiskinan yaitu :
1. Faktor Ekonomi Yakni turunnya pertumbuhan ekonomi, akibat adanya inflasi, refresi dan sebagainya, menimbulkan kemiskinan, sehingga kemsikinan relatif dan absoulut semakin bertambah. Kemiskinan akibat perekonomian dapat diselesaikan diatasi dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang baik dan merata. Disamping itu kelangkaan sumber-sumber daya ekonomi merupakan salah satu sebab timbulnya kemiskinan.
2. Faktor Individual : Terkait dengan aspek patalogi, termasuk kondisi fisik dan psikologis. Orang yang menjadi miskin karena adanya kecacatan pribadi, dalam arti fisik, mental (attitude), malas, tidak jujur, merasa terasing sehingga mereka tidak dapat mencari pekerjaan.
3. Faktor Sosial : Kondisi-kondisi lingkungan sosial yang menjebak orang menjadi miskin. Misalnya terdapat deskriminasi, berdasarkan usia, gender, etnis, yang menyebabkan orang menjadi miskin. Termasuk dalam faktor ini ialah kondisi sosial keluarga si miskin yang biasanya menyebabkan kemiskinan antar generasi.
4. Faktor Kultural Kondisi atau kualitas budaya yang menyebabkan kemiskinan. Faktor ini secara khusus sering menunjuk konsep “kemiskinan kultural” atau budaya kemiskinan. Menghubungkan dengan penelitian Oscar Lewis di Amerika Latin : Bahwa memang ada apa yang disebut kebudayaan kemsikinan, yaitu pola kehidupan masyarakat yang mencerminkan pola hidup apatis, ketidakjujuran, ketergantungan, motivasi yang rendah, ketidakstabilan keluarga dsb.
5. Faktor Struktural Menunjuk pada struktur atau sistem yang tidak adil , tidak sensitif, dan tidak accessible sehingga menyebabkan seseorang atau sekelompok orang menjadi miskin. Sebagai contoh, sistem ekonomi neoriberalisme yang diterapkan di Indonesia telah menyebabkan para petani, nelayan, dan pekerja sektor informal terjerat dan sulit keluar dari kemiskinan.
F. Data Kemiskinan
Untuk membuat pemerataan kekayaan di daerah-daerah di Indonesia tentu tidaklah mudah, apalagi mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas. Karena itu, ada beberapa wilayah di Indonesia yang memiliki angka kemiskinan yang tertinggi, hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal.
1. Angka Kemiskinan Tertinggi di Indonesia
Di bawah ini adalah 7 provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia: No. Provinsi Angka Kemiskinan
1 Papua Barat 36,80 %
2 Papua 34,88 %
3 Maluku 27,74 %
4 Sulawesi Barat 23,19 %
5 Nusa Tenggara Timur 23,03 %
6 Nusa Tenggara Barat 21,55 %
7 Aceh 20,98 %
2. Tingkat Kemiskinan di Riau
Dibawah ini adalah tabel yang menunjukkan tingkat kemiskinan di Riau berdasarkan data dari BPS Riau: Tahun Jumlah Persentase
Maret 2008 566.700 jiwa 10,63 %
Maret 2009 527.490 jiwa 9,48 %
Maret 2010 500.260 jiwa 8,65 %
Maret 2011 482.050 jiwa 8,47 % September 2011 472.450 jiwa 8,17 % Maret 2012 483.070 jiwa 8,22 % September 2012 481.310 jiwa 8,05 % Maret 2013 469.280 jiwa 7,72 % Menurut BPS Riau, jumlah penduduk miskin (Penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di Riau, periode bulan Maret 2008 adalah sebesar 566.700 jiwa (10,63%). Persebaran penduduk miskin di Riau sebagian besar berada di daerah pedesaan yang jumlahnya sebesar 56,75 %, sedangkan di perkotaan sebesar 43,25 %. Untuk periode Maret 2009, jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Riau adalah 527.490 jiwa ( 9,48% ) Pada bulan Maret 2009, penduduk miskin di Riau sebagian besar berada di daerah pedesaan sebesar 57,23 %, sedangkan di perkotaan sebesar 42,77 %. Pada Maret 2010, jumlah dan persentase penduduk Miskin Riau adalah 500.260 jiwa ( 8,65% ). Pada tahun 2010, dimana persentase penduduk miskin di daerah pedesaan naik menjadi 58,24 % dan perkotaan turun mejadi 41,76 %. Jumlah dan persentase penduduk miskin Riau pada Maret 2011 adalah 482.050 jiwa ( 8,47% ). Pada tahun 2011, dimana persentase penduduk miskin di daerah pedesaan naik drastis menjadi 70,56 % dan perkotaan turun menjadi 29,44 %. Pada September 2011, jumlah dan persentase penduduk miskin Riau berjumlah 472.450 jiwa ( 8,17% ). Di bulan September 2011, dimana persentase penduduk miskin di daerah perdesaan naik menjadi 71,19 % dan perkotaan turun menjadi 28,81 %. Jumlah dan persentase penduduk miskin Riau pada Maret 2012 mengalami kenaikan, yaitu berjumlah 483.070 jiwa ( 8,22% ). Dimana persentase penduduk miskin di daerah perdesaan mengalami sedikit penurunan menjadi 69,33 % dan perkotaan mengalami sedikit kenaikan mejadi 30,67 %. Untuk periode September 2012, jumlah dan persentase penduduk miskin Riau kembali mengalami penurunan, yaitu berjumlah 481.310 jiwa ( 8,05% ). Persentase penduduk miskin di daerah perdesaan mengalami penurunan menjadi 67,50 % dan perkotaan mengalami sedikit kenaikan mejadi 32,50 %. Sedangkan untuk periode Maret 2013, jumlah dan persentase penduduk miskin Riau berjumlah 469,280 jiwa ( 7,72% ). dimana persentase penduduk miskin di daerah perdesaan mengalami sedikit penurunan menjadi 68,82 % dan perkotaan mengalami sedikit kenaikan mejadi 31,18 %.
G. Dampak dari Kemiskinan
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat pada umumnya begitu banyak dan kompleks. Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Berikut adalah beberapa dampak dari kemiskinan:
1. Dengan banyaknya pengangguran, maka kemiskinan pun semakin meningkat. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.
2. Kejahatan. Kejahatan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu.
3. Pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan.
4. Kesehatan. Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
H. PENGENTASAN KEMISKINAN DI PERKOTAAN
Tiga metode mengentaskan kemiskinan adalah melalui pertumbuhan ekonomi, peningkatan layanan masyarakat dan mekanisme pengeluaran pemerintah. Masing-masing cara tersebut menangani minimal satu dari tiga ciri utama kemiskinan di Indonesia, yaitu: kerentanan, sifat multi-dimensi dan keragaman antar daerah.
Strategi pengentasan kemiskinan yang efektif bagi Indonesia terdiri:
1. Pertumbuhan Ekonomi yang bermanfaat bagi rakyat miskin Pertumbuhan ekonomi telah dan akan tetap menjadi landasan bagi pengentasan kemiskinan. Strategi membantu masyarakat miskin menikmati manfaat dari pertumbuhan ekonomi terdiri dari beberapa unsur : - Pertama, penting untuk memelihara stabilitas makro ekonomi: kuncinya adalah inflasi rendah dan nilai tukar yang stabil dan kompetitif. - Kedua, masyarakat miskin perlu dihubungkan dengan peluang-peluang pertumbuhan. Akses lebih baik terhadap jalan, telekomunikasi, kredit dan pekerjaan di sektor formal dapat dikaitkan dengan pengentasan kemiskinan. Manfaat penyediaan infrastruktur adalah kesempatan kerja dan distribusi barang produksi. - Melakukan investasi untuk meningkatkan kemampuan (kapabilitas) masyarakat miskin. Bagian dari strategi pertumbuhan harus terdiri dari investasi bagi masyarakat miskin, yakni menyiapkan mereka agar bisa dengan baik memetik manfaat dari berbagai kesempatan bagi pertumbuhan pendapatan yang muncul di depan mereka.
2. Menyediakan layanan sosial yang bermanfaat bagi rakyat miskin - Pertama, Indikator pembangunan manusia yang kurang baik, misalnya angka kematian bayi yang tinggi, harus diatasi dengan memperbaiki kualitas layanan yang tersedia untuk masyarakat miskin. - Kedua, ciri keragaman antar daerah kebanyakan dicerminkan oleh perbedaan dalam akses terhadap layanan, yang pada akhirnya mengakibatkan adanya perbedaan dalam pencapaian indikator pembangunan manusia di berbagai daerah. Dengan demikian, membuat layanan masyarakat bermanfaat bagi rakyat miskin merupakan kunci dalam menangani masalah kemiskinan dalam konteks keragaman antar daerah.
3. Mekanisme pengeluaran pemerintah yang bermanfaat bagi rakyat miskin. Di samping pertumbuhan ekonomi dan layanan sosial, dengan menentukan mekanisme pengeluaran untuk rakyat miskin, pemerintah dapat membantu mereka dalam menghadapi kemiskinan (baik dari segi pendapatan maupun non-pendapatan). - Pertama, pengeluaran pemerintah dapat digunakan untuk membantu mereka yang rentan terhadap kemiskinan dari segi pendapatan melalui suatu sistem perlindungan sosial modern yang meningkatkan kemampuan mereka sendiri untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi. - Kedua, pengeluaran pemerintah dapat digunakan untuk memperbaiki indikator-indikator pembangunan manusia, sehingga dapat mengatasi kemiskinan dari aspek non-pendapatan. Membuat pengeluaran bermanfaat bagi masyarakat miskin sangat menentukan saat ini, terutama mengingat adanya peluang dari sisi fiskal yang ada di Indonesia.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Kemiskinan di perkotaan adalah suatu kondisi di suatu perkotaan, dimana seseorang atau sekelompok orang mengalami keadaan standar hidup lebih rendah daripada masyarakat diperkotaan yang seharusnya.
Kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi:
1. Kemiskinan Absolut. Seseorang dikategorikan termasuk ke dalam golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.
2. Kemiskinan Relatif. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
3. Kemiskinan Kultural. Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
Faktor-faktor terjadinya kemiskinan di perkotaan:
1. Kemiskinan Absolut. Seseorang dikategorikan termasuk ke dalam golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.
2. Kemiskinan Relatif. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
3. Kemiskinan Kultural. Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
Dampak kemiskinan di perkotaan:
1. Kejahatan di perkotaan menjadi meningkat
2. Kota menjadi kotor, karena banyaknya pemukiman kumuh di kota.
3. Banyaknya masyarakat miskin di perkotaan yang putus sekolah 4. Kesehatan masyarakat miskin di kota tidak terpenuhi
B. Saran
Beberapa solusi untuk mengatasi kemiskinan di perkotaan yang membuat kota semakin tidak nyaman adalah sebagai berikut:
1. Pemberian pelatihan keterampilan dan keahlian
2. Pemberian modal usaha
3. Peningkatan pendidikan masyarakat 4. Membuka lebih banyak lagi lapangan kerja di desa dan di kota
5. Pemberantasan korupsi
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Ahmadi, Abu.1988. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Rineka Cipta
Gilbert, Alan dan Josef Gugler. Urbanisasi dan Kemiskinan. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya. 1996.
Hidayati, Nur, dkk. 2007. IAD-ISD-IBD. Bandung: CV Pustaka Setia
Sihotang, Amri P. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Semarang : Semarang University Press. 2011. Soelaeman,Munandar.1987. Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: Eresco
Internet :
http://marx83.wordpress.com/2008/07/05/upaya-penanggulangan-kemiskinan
http://restu-ayuningrum.blogspot.co.id/2013/02/pengukuran-kemiskinan.html http://statisticscafe.blogspot.co.id/2012/02/penghitungan-angka-kemiskinan-bps-vs.html http://www.google.com/kemiskinan akibat kerusakan lingkungan.
http://www.google.com/pembangunan tidak berwawasan lingkungan.
html/ http://www.scribd.com/doc/14597304/TEORI-KEMISKINAN
http://www.wikipedia.com
3. Bagaimana cara mengukur kemiskinan ?
4. Apa saja dampak dari kemiskinan ?
5. Bagaimana cara mengatasi kemiskinan di perkotaan ?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian kemiskinan ?
2. Untuk mengetahui indikator dan penyebab kemiskinan di perkotaan ?
3. Untuk mengetahui bagaimana cara mengukur kemiskinan ?
4. Untuk mengetahui dampak dari kemiskinan ?
5. Untuk mengatahui bagaimana cara mengatasi kemiskinan di perkotaan ?
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi Kemiskinan Ada beberapa definisi kemiskinan menurut para pakar, berikut adalah beberapanya: 1. Suparlan ( 1993 ), kemiskinan didefinisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. 2. Sajogyo ( 1988 ), mengartikan kemiskinan tidak sebatas hanya dicerminkan oleh rendahnya tingkat pendapatan dan pengeluaran. Sajogyo memandang kemiskinan secara lebih kompleks dan mendalam dengan ukuran delapan jalur pemerataan yaitu rendahnya peluang berusaha dan bekerja, tingkat pemenuhan pangan, sandang dan perumahan, tingkat pendidikan dan kesehatan, kesenjangan desa dan kota, peran serta masyarakat, pemerataan, kesamaan dan kepastian hukum dan pola keterkaitan dari beberapa jalur tersebut.
3. Menurut Bappenas ( 2002 ), kemiskinan adalah suatu situasi dan kondisi yang dialami seseorang atau sekelompok orang yang tidak mampu menyelenggarakan hidupnya sampai suatu taraf yang dianggap manusiawi. Jadi, kemiskinan di perkotaan adalah suatu kondisi di perkotaan, dimana seseorang atau sekelompok orang mengalami keadaan standar hidup lebih rendah daripada masyarakat diperkotaan yang seharusnya.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara, Pemahaman utamanya mencakup:
- Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
- Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
- Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai.
B. Pengelompokkan kemiskinan
Menurut pengertian kemiskinan, pada dasarnya bentuk kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi tiga pengertian, yaitu:
1. Kemiskinan Absolut. Seseorang dikategorikan termasuk ke dalam golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.
2. Kemiskinan Relatif. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
3. Kemiskinan Kultural. Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
C. Indikator Kemiskinan
Menurut Badan Pusat Statistika (BPS) indikator kemiskinan yaitu:
- Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandan, pangan dan papan).
- Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi).
- Tidak adanya jaminan masa depan (karena tidak ada investasi untuk pendidikan dan keluarga).
- Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
- Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
Menurut Bank Dunia indikator kemiskinan yaitu:
- Kepemilikan tanah dan modal yang terbatas
- Terbatasnya sarana dan prasarana yang dibutuhkan
- Perbedaan sumber daya manusia dan sektor ekonomi
- Rendahnya produktivitas
- Budaya hidup yang jelek
- Tata pemerintahan yang buruk
Menurut Bappenas (2006)
Indikator kemiskinan yaitu : - Terbatasnya kecukupan dan mutu pangan - Terbatasnya akses dan rendahnya mutu pelayanan kesehatan dan pendidikan - Terbatasnya kesempatan kerja dan berusaha - Terbatasnya akses layanan perumahan dan sanitasi - Lemahnya kepastian kepemilikan dan penguasaan tanah - Memburuknya kondisi lingkungan hidup dan sumberdaya alam, serta terbatasnya akses masyarakat terhadap sumber daya alam - Besarnya beban kependudukan yang disebabkan oleh besarnya tanggungan keluarga - Tata kelola pemerintahan yang buruk yang menyebabkan inefisiensi dan inefektivitas dalam pelayanan publik, meluasnya korupsi, dan rendahnya jaminan sosial terhadap masyarakat.
D. Pengukuran kemiskinan
Beberapa metode pengukuran yang digunakan dalam menetapkan indikator kemiskinan adalah sebagai berikut :
a. Metode pengukuran jumlah kalori yang dikonsumsi per orang per hari Metode ini digunakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Standar kebutuhan minimum per orang per hari menurut BPS adalah 2100 kalori. Pemenuhan jumlah kalori tersebut sudah diperhitungkan dari 52 jenis komoditi yang dianggap mewakili pola konsumsi penduduk. Pemenuhan kebutuhan lainnya (non makanan) diperhitungkan dari 45 jenis komoditi non makanan dengan tidak membedakan antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Jumlah pengeluaran dalam rupiah untuk memenuhi kebutuhan tersebut yang disesuaikan dengan harga pasar yang berlaku di masing-masing wilayah kemudian ditetapkan sebagai garis kemiskinan penduduk di suatu wilayah.
b. Metode pengukuran pendapatan yang disetarakan dengan nilai tukar beras per kapita per tahun Metode ini dikemukakan oleh Sajogyo (1980) untuk mengukur tingkat kemiskinan. Tingkat kemiskinan didasarkan pada jumlah pendapatan per kapita per tahun yang disetarakan nilai tukar beras, yaitu : Kelompok paling miskin : bila pendapatannya kurang dari nilai tukar beras sebesar 240 kg/kapita/tahun. Kelompok miskin sekali : bila pendapatannya hanya setara dengan nilai tukar beras sebesar 240 kg sampai dengan 360 kg per kapita/tahun. Kelompok miskin : bila pendapatannya hanya setara dengan nilai tukar beras sebesar 360 kg sampai dengan 480 kg per kapita/tahun. Kelompok cukup : bila pendapatannya setara dengan nilai tukar beras sebesar 480 kg sampai dengan 960 kg per kapita/tahun. Kelompok kaya : bila pendapatannya sama atau lebih dari nilai tukar beras sebesar 960 kg per kapita/tahun.
c. Metode pengukuran jumlah pendapatan Bank Dunia menggunakan metode pengukuran jumlah pendapatan minimal per hari per orang untuk menentukan garis kemiskinan. Menurut Bank Dunia, pendapatan minimal per orang per hari adalah U$ 1 (setara dengan Rp. 9.000,-). Penetapan pengukuran pendapatan ini tidak disertai dengan pengukuran pengeluaran per orang per hari dengan asumsi bahwa selain kebutuhan makanan pokok, pengeluaran untuk jenis kebutuhan lain (non makanan) tidak selalu dilakukan setiap hari. Apabila disetarakan dengan pendapatan per bulan maka seseorang dikatakan miskin apabila penghasilannya dalam sebulan kurang dari Rp. 600.000,-.
E. Faktor-faktor Penyebab Kemiskinan
Menurut Ala (1981), penyebab kemiskinan dibedakan atas :
1. Faktor Internals Menurut Ala (1981), faktor internal adalah faktor (individu) itu sendirilah yang menyebabkan kemiskinan bagi dirinya sendiri. Berikut beberapa faktor penyebab kemiskinan secara internal.
a. Keterbatasan Karakter - Kurang etos kerja: malas, fatalistik, takut menghadapi masa depan, kurang daya juang - Kurang kepedulian terhadap norma-norma susila: suburnya perilaku menyimpang (pelacuran, perceraian, kumpul kebo, minuman keras dan obat terlarang, pencurian, anak-anak terlantar, pengemis, pengamen, pencopet, keterasingan, kekerasan, ketidak santunan, penodongan)
b. Keterbatasan Pendidikan/Pengetahuan - Tidak memiliki/tidak terjangkau biaya untuk menempuh hidupnya - Tidak memikirkan pendidikan anak-anaknya sehingga sebagian masih buta huruf - Tidak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya ; Learning process sangat terbatas untuk merubah perilakunya karena perilaku yang lebih produktif, lebih normatif bersumber dari learning process, berada dalam lingkungan dimana learning process tidak kondusif
c. Keterbatasan Kesehatan Pangan yang tidak memenuhi kebutuhan fisik (bahkan sering kelaparan), Rumah yang tidak layak (multiguna, tempat kerja, untuk tempat jualan, untuk menumpuk dan memilah-milah barang bekas), lingkungan perumahan yang tidak sehat (kumuh), MCK yang tidak layak/pinggir kali, listrik yang terbatas, air bersih terbatas, lemahnya ketahanan fisik karena rendahnya konsumsi pangan baik kuantitas maupun kualitas sehingga konsumsi gizi mereka sangat rendah yang berakibat pada rendahnya produktivitas mereka, bila sakit tak mampu berobat, bahkan anak sering sakit karena mengkonsumsi air yang tidak bersih
d. Keterbatasan Keterampilan Rendahnya learning process karena tidak memiliki biaya untuk mengikuti sekolah, kursus, atau pelatihan yang menambah ketrampilan mereka
e. Keterbatasan Keadilan Menjadi korban ketidakadilan oleh dirinya sendiri, oleh orang kelompoknya, kelompok kaya, maupun oleh pemerintah. Karena sifatnya yang menjadi masalah/beban dan tidak produktif maka tidak memiliki daya tarik.
f. Keterbatasan Kekuasan - Suaranya jarang didengar baik secara kelompok apalagi secara individu. - Tidak cukup kekuatan tawar menawar/tidak berdaya untuk memperjuangkan nasibnya/tidak memiliki akses ke proses pengambilan keputusan yang menyangkut hidup mereka. - Jarang menang dalam bernegosiasi ekonomi.
g. Keterbatasan Kebebasan Terhimpit persoalan hidup sehari-hari untuk mencari makan, terhimpit hutang, tempat tinggal di tanah negara, lingkungan kumuh yang tidak sehat.
2. Faktor Eksternal
Menurut Ala (1981), kemiskinan yang disebabkan faktor eksternal adalah terjadinya kemiskinan disebabkan oleh-oleh faktor-faktor yang berada di luar diri si aktor tersebut. Faktor eksternal terdiri dari:
a. Faktor Alamiah Ada beberapa faktor alamiah yang menyebabkan kemiskinan, antara lain: keadaan alam yang miskin, bencana alam, keadaan iklim yang kurang menguntungkan. Kemiskinan alamiah dapat juga ditandai dengan semakin menurunnya kemampuan kerja anggota keluarga karena usia bertambah dan sakit keras untuk waktu yang cukup lama.
b. Faktor Buatan (Struktural) Faktor buatan yaitu terjadinya masyarakat miskin karena tidak mempunyai kemampuan untuk beradaptasi secara cepat (dalam arti yang menguntungkan) terhadap perubahan-perubahan teknologi maupun ekonomi, mengakibatkan kesempatan kerja yang dimiliki mereka semakin tertutup. Mereka tidak mendapatkan hasil yang proporsional dari keuntungan-keuntungan akibat dari perubahan-perubahan itu. Menurut Bank Dunia Faktor Penyebab Kemiskinan menurut Bank Dunia : - Kegagalan kepemilikan terutama tanah dan modal. - Terbatasnya ketersediaan bahan kebutuhan dasar dan prasarana. - Kebijakan pembangunan yang bias perkotaan dan bias sektor. - Adanya perbedaan sumber daya manusia dan perbedaan antara sektor ekonomi (ekonomi tradisional versus ekonomi modern) - Rendahnya produktivitas dan tingkat pembentukan modal dalam masyarakat. - Budaya hidup yang dikaitkan dengan kemampuan seseorang mengelolah sumber daya alam dan lingkungannya - Tidak adanya tata pemerintah yang bersih dan baik (good governance). - Pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan dan tidak berwawasan lingkungan
Menurut Edis Suharto Faktor-faktor penyebab kemiskinan yaitu :
1. Faktor Ekonomi Yakni turunnya pertumbuhan ekonomi, akibat adanya inflasi, refresi dan sebagainya, menimbulkan kemiskinan, sehingga kemsikinan relatif dan absoulut semakin bertambah. Kemiskinan akibat perekonomian dapat diselesaikan diatasi dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang baik dan merata. Disamping itu kelangkaan sumber-sumber daya ekonomi merupakan salah satu sebab timbulnya kemiskinan.
2. Faktor Individual : Terkait dengan aspek patalogi, termasuk kondisi fisik dan psikologis. Orang yang menjadi miskin karena adanya kecacatan pribadi, dalam arti fisik, mental (attitude), malas, tidak jujur, merasa terasing sehingga mereka tidak dapat mencari pekerjaan.
3. Faktor Sosial : Kondisi-kondisi lingkungan sosial yang menjebak orang menjadi miskin. Misalnya terdapat deskriminasi, berdasarkan usia, gender, etnis, yang menyebabkan orang menjadi miskin. Termasuk dalam faktor ini ialah kondisi sosial keluarga si miskin yang biasanya menyebabkan kemiskinan antar generasi.
4. Faktor Kultural Kondisi atau kualitas budaya yang menyebabkan kemiskinan. Faktor ini secara khusus sering menunjuk konsep “kemiskinan kultural” atau budaya kemiskinan. Menghubungkan dengan penelitian Oscar Lewis di Amerika Latin : Bahwa memang ada apa yang disebut kebudayaan kemsikinan, yaitu pola kehidupan masyarakat yang mencerminkan pola hidup apatis, ketidakjujuran, ketergantungan, motivasi yang rendah, ketidakstabilan keluarga dsb.
5. Faktor Struktural Menunjuk pada struktur atau sistem yang tidak adil , tidak sensitif, dan tidak accessible sehingga menyebabkan seseorang atau sekelompok orang menjadi miskin. Sebagai contoh, sistem ekonomi neoriberalisme yang diterapkan di Indonesia telah menyebabkan para petani, nelayan, dan pekerja sektor informal terjerat dan sulit keluar dari kemiskinan.
F. Data Kemiskinan
Untuk membuat pemerataan kekayaan di daerah-daerah di Indonesia tentu tidaklah mudah, apalagi mengingat wilayah Indonesia yang sangat luas. Karena itu, ada beberapa wilayah di Indonesia yang memiliki angka kemiskinan yang tertinggi, hal ini bisa disebabkan oleh banyak hal.
1. Angka Kemiskinan Tertinggi di Indonesia
Di bawah ini adalah 7 provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi di Indonesia: No. Provinsi Angka Kemiskinan
1 Papua Barat 36,80 %
2 Papua 34,88 %
3 Maluku 27,74 %
4 Sulawesi Barat 23,19 %
5 Nusa Tenggara Timur 23,03 %
6 Nusa Tenggara Barat 21,55 %
7 Aceh 20,98 %
2. Tingkat Kemiskinan di Riau
Dibawah ini adalah tabel yang menunjukkan tingkat kemiskinan di Riau berdasarkan data dari BPS Riau: Tahun Jumlah Persentase
Maret 2008 566.700 jiwa 10,63 %
Maret 2009 527.490 jiwa 9,48 %
Maret 2010 500.260 jiwa 8,65 %
Maret 2011 482.050 jiwa 8,47 % September 2011 472.450 jiwa 8,17 % Maret 2012 483.070 jiwa 8,22 % September 2012 481.310 jiwa 8,05 % Maret 2013 469.280 jiwa 7,72 % Menurut BPS Riau, jumlah penduduk miskin (Penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di Riau, periode bulan Maret 2008 adalah sebesar 566.700 jiwa (10,63%). Persebaran penduduk miskin di Riau sebagian besar berada di daerah pedesaan yang jumlahnya sebesar 56,75 %, sedangkan di perkotaan sebesar 43,25 %. Untuk periode Maret 2009, jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Riau adalah 527.490 jiwa ( 9,48% ) Pada bulan Maret 2009, penduduk miskin di Riau sebagian besar berada di daerah pedesaan sebesar 57,23 %, sedangkan di perkotaan sebesar 42,77 %. Pada Maret 2010, jumlah dan persentase penduduk Miskin Riau adalah 500.260 jiwa ( 8,65% ). Pada tahun 2010, dimana persentase penduduk miskin di daerah pedesaan naik menjadi 58,24 % dan perkotaan turun mejadi 41,76 %. Jumlah dan persentase penduduk miskin Riau pada Maret 2011 adalah 482.050 jiwa ( 8,47% ). Pada tahun 2011, dimana persentase penduduk miskin di daerah pedesaan naik drastis menjadi 70,56 % dan perkotaan turun menjadi 29,44 %. Pada September 2011, jumlah dan persentase penduduk miskin Riau berjumlah 472.450 jiwa ( 8,17% ). Di bulan September 2011, dimana persentase penduduk miskin di daerah perdesaan naik menjadi 71,19 % dan perkotaan turun menjadi 28,81 %. Jumlah dan persentase penduduk miskin Riau pada Maret 2012 mengalami kenaikan, yaitu berjumlah 483.070 jiwa ( 8,22% ). Dimana persentase penduduk miskin di daerah perdesaan mengalami sedikit penurunan menjadi 69,33 % dan perkotaan mengalami sedikit kenaikan mejadi 30,67 %. Untuk periode September 2012, jumlah dan persentase penduduk miskin Riau kembali mengalami penurunan, yaitu berjumlah 481.310 jiwa ( 8,05% ). Persentase penduduk miskin di daerah perdesaan mengalami penurunan menjadi 67,50 % dan perkotaan mengalami sedikit kenaikan mejadi 32,50 %. Sedangkan untuk periode Maret 2013, jumlah dan persentase penduduk miskin Riau berjumlah 469,280 jiwa ( 7,72% ). dimana persentase penduduk miskin di daerah perdesaan mengalami sedikit penurunan menjadi 68,82 % dan perkotaan mengalami sedikit kenaikan mejadi 31,18 %.
G. Dampak dari Kemiskinan
Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat pada umumnya begitu banyak dan kompleks. Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Berikut adalah beberapa dampak dari kemiskinan:
1. Dengan banyaknya pengangguran, maka kemiskinan pun semakin meningkat. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata.
2. Kejahatan. Kejahatan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu.
3. Pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan.
4. Kesehatan. Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.
H. PENGENTASAN KEMISKINAN DI PERKOTAAN
Tiga metode mengentaskan kemiskinan adalah melalui pertumbuhan ekonomi, peningkatan layanan masyarakat dan mekanisme pengeluaran pemerintah. Masing-masing cara tersebut menangani minimal satu dari tiga ciri utama kemiskinan di Indonesia, yaitu: kerentanan, sifat multi-dimensi dan keragaman antar daerah.
Strategi pengentasan kemiskinan yang efektif bagi Indonesia terdiri:
1. Pertumbuhan Ekonomi yang bermanfaat bagi rakyat miskin Pertumbuhan ekonomi telah dan akan tetap menjadi landasan bagi pengentasan kemiskinan. Strategi membantu masyarakat miskin menikmati manfaat dari pertumbuhan ekonomi terdiri dari beberapa unsur : - Pertama, penting untuk memelihara stabilitas makro ekonomi: kuncinya adalah inflasi rendah dan nilai tukar yang stabil dan kompetitif. - Kedua, masyarakat miskin perlu dihubungkan dengan peluang-peluang pertumbuhan. Akses lebih baik terhadap jalan, telekomunikasi, kredit dan pekerjaan di sektor formal dapat dikaitkan dengan pengentasan kemiskinan. Manfaat penyediaan infrastruktur adalah kesempatan kerja dan distribusi barang produksi. - Melakukan investasi untuk meningkatkan kemampuan (kapabilitas) masyarakat miskin. Bagian dari strategi pertumbuhan harus terdiri dari investasi bagi masyarakat miskin, yakni menyiapkan mereka agar bisa dengan baik memetik manfaat dari berbagai kesempatan bagi pertumbuhan pendapatan yang muncul di depan mereka.
2. Menyediakan layanan sosial yang bermanfaat bagi rakyat miskin - Pertama, Indikator pembangunan manusia yang kurang baik, misalnya angka kematian bayi yang tinggi, harus diatasi dengan memperbaiki kualitas layanan yang tersedia untuk masyarakat miskin. - Kedua, ciri keragaman antar daerah kebanyakan dicerminkan oleh perbedaan dalam akses terhadap layanan, yang pada akhirnya mengakibatkan adanya perbedaan dalam pencapaian indikator pembangunan manusia di berbagai daerah. Dengan demikian, membuat layanan masyarakat bermanfaat bagi rakyat miskin merupakan kunci dalam menangani masalah kemiskinan dalam konteks keragaman antar daerah.
3. Mekanisme pengeluaran pemerintah yang bermanfaat bagi rakyat miskin. Di samping pertumbuhan ekonomi dan layanan sosial, dengan menentukan mekanisme pengeluaran untuk rakyat miskin, pemerintah dapat membantu mereka dalam menghadapi kemiskinan (baik dari segi pendapatan maupun non-pendapatan). - Pertama, pengeluaran pemerintah dapat digunakan untuk membantu mereka yang rentan terhadap kemiskinan dari segi pendapatan melalui suatu sistem perlindungan sosial modern yang meningkatkan kemampuan mereka sendiri untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi. - Kedua, pengeluaran pemerintah dapat digunakan untuk memperbaiki indikator-indikator pembangunan manusia, sehingga dapat mengatasi kemiskinan dari aspek non-pendapatan. Membuat pengeluaran bermanfaat bagi masyarakat miskin sangat menentukan saat ini, terutama mengingat adanya peluang dari sisi fiskal yang ada di Indonesia.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Kemiskinan di perkotaan adalah suatu kondisi di suatu perkotaan, dimana seseorang atau sekelompok orang mengalami keadaan standar hidup lebih rendah daripada masyarakat diperkotaan yang seharusnya.
Kemiskinan dapat dikelompokkan menjadi:
1. Kemiskinan Absolut. Seseorang dikategorikan termasuk ke dalam golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.
2. Kemiskinan Relatif. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
3. Kemiskinan Kultural. Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
Faktor-faktor terjadinya kemiskinan di perkotaan:
1. Kemiskinan Absolut. Seseorang dikategorikan termasuk ke dalam golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum, yaitu: pangan, sandang, kesehatan, papan, dan pendidikan.
2. Kemiskinan Relatif. Seseorang yang tergolong miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan tetapi masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya.
3. Kemiskinan Kultural. Kemiskinan ini berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya.
Dampak kemiskinan di perkotaan:
1. Kejahatan di perkotaan menjadi meningkat
2. Kota menjadi kotor, karena banyaknya pemukiman kumuh di kota.
3. Banyaknya masyarakat miskin di perkotaan yang putus sekolah 4. Kesehatan masyarakat miskin di kota tidak terpenuhi
B. Saran
Beberapa solusi untuk mengatasi kemiskinan di perkotaan yang membuat kota semakin tidak nyaman adalah sebagai berikut:
1. Pemberian pelatihan keterampilan dan keahlian
2. Pemberian modal usaha
3. Peningkatan pendidikan masyarakat 4. Membuka lebih banyak lagi lapangan kerja di desa dan di kota
5. Pemberantasan korupsi
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Ahmadi, Abu.1988. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Rineka Cipta
Gilbert, Alan dan Josef Gugler. Urbanisasi dan Kemiskinan. Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya. 1996.
Hidayati, Nur, dkk. 2007. IAD-ISD-IBD. Bandung: CV Pustaka Setia
Sihotang, Amri P. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Semarang : Semarang University Press. 2011. Soelaeman,Munandar.1987. Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: Eresco
Internet :
http://marx83.wordpress.com/2008/07/05/upaya-penanggulangan-kemiskinan
http://restu-ayuningrum.blogspot.co.id/2013/02/pengukuran-kemiskinan.html http://statisticscafe.blogspot.co.id/2012/02/penghitungan-angka-kemiskinan-bps-vs.html http://www.google.com/kemiskinan akibat kerusakan lingkungan.
http://www.google.com/pembangunan tidak berwawasan lingkungan.
html/ http://www.scribd.com/doc/14597304/TEORI-KEMISKINAN
http://www.wikipedia.com
Subscribe to:
Comments (Atom)







